Dokter Paru Ungkap Gejala ISPA Bisa Diobati Sendiri, Begini Cara Penanganannya

Ilustrasi seorang penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). (Dok. Ist)

Faktapalembang.id, NASIONAL – Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa sebagian gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejatinya dapat ditangani secara mandiri di rumah. Panduan terkait penanganan ISPA di rumah tersebut disampaikan di Jakarta pada Jumat (17/4/2026), sebagai respons atas meningkatnya risiko gangguan kesehatan di masyarakat akibat perubahan cuaca mendadak akhir-akhir ini.

Tjandra menjelaskan bahwa infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas, yang meliputi area hidung hingga tenggorokan, umumnya hanya memunculkan keluhan ringan. Gejala awal yang paling sering dialami penderita antara lain tenggorokan terasa kering, perubahan suara menjadi serak, hingga munculnya batuk-batuk. Kondisi kesehatan seperti ini tidak selalu membutuhkan tindakan medis tingkat lanjut atau perawatan di fasilitas kesehatan.

“Pada dasarnya dia sebagian besar memang bisa ditangani di rumah, (dengan) istirahat, minum air hangat..,” katanya kepada awak media pada Jumat.

Sebagai langkah penanganan ISPA di rumah, Tjandra sangat menganjurkan para pasien untuk senantiasa menjaga hidrasi tubuh dengan baik. Mengonsumsi air dalam jumlah banyak, khususnya air hangat, sangat dinilai efektif untuk melonggarkan saluran pernapasan yang terganggu.

“Kalau orang yang ISPA itu bagus minum air yang banyak untuk membuat saluran napasnya jadi tidak kering, termasuk juga menghirup uap air tanpa obat. Kalau bagian dari upaya membuat saluran napas tidak kering itu bagus-bagus saja,” ia menjelaskan.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa penggunaan obat-obatan yang dijual bebas di apotek, seperti obat penurun panas dan pereda batuk, diperbolehkan untuk meredakan gejala yang dirasa mengganggu. Namun, ia memberikan peringatan keras terkait konsumsi obat keras. Penggunaan obat anti-bakteri (antibiotik) atau anti-virus sama sekali tidak dibenarkan tanpa adanya pemeriksaan awal dan resep resmi dari dokter.

Tjandra juga memberikan panduan mengenai kapan seorang pasien harus segera menghentikan perawatan mandiri dan mencari pertolongan medis profesional. Apabila gejala ISPA tidak kunjung reda setelah lebih dari tiga hari, serta diikuti dengan penurunan daya tahan tubuh secara drastis dan munculnya tanda-tanda sesak napas, pasien wajib segera dibawa ke klinik atau rumah sakit.

“Kalau keluhannya sudah sampai ke bawah, ke paru-paru, batuknya dalam, ada nyeri dada, sesak napas, apalagi napasnya jadi cepat, nah itu bisa diduga mengarah ke arah pneumonia, dan berobat lah segera ke pusat kesehatan terdekat,” katanya mengingatkan.

Sebagai langkah antisipasi dan pencegahan di tengah kondisi cuaca panas serta peralihan musim yang ekstrem, Tjandra menekankan pentingnya menjaga ketahanan imun tubuh setiap hari. Hal ini dapat dilakukan dengan rutin mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memastikan waktu istirahat yang cukup, serta konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat guna menghindari paparan virus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *